Sabtu, 25 Mei 2013

Misteri tenggelamnya kapal titanic

Misteri seputar tenggelamnya kapal titanic masih jadi bahan perbincangan hangat hingga saat ini. Bahkan sampai kisah ini dibuat dalam sebuah film dan menjadi hits box office. Bagaimana kisah yang sesungguhnya terjadi? Mari kita simak kisah yang saya rangkum dibawah ini.





Rodha Abot berusaha memejam mata. Ia berbaring di Amben Kabin. Kasur itu tak seempuk kelas eksekutif. Itu kelas geladak. Rodha bersama dua putranya. Rossmore Edward berusia 16 tahun. Eugene Joseph 13 tahun.

Malam itu, Minggu 14 April 1912, kapal Titanic melaju anggun membelah Atlantik Utara. Laut tenang. Cuma riak, tak ada ombak. Rembulan absen dari langit. Tapi gemerlap bintang bertabur di batas tatapan. Suhu dingin menggigit malam. Nyaris beku.

Sebuah hentakan keras membangun Rodha dan dua putranya itu. Lalu terdengar bunyi mengerikan. Edward dan Joseph sudah ribut hendak ke dek kapal raksasa itu. Tapi Rodha menahan. Ia memilih menghampiri kelasi. Lalu bertanya apa gerakan bunyi mengerikan itu.

Sang kelasi menjawab dengan muka tenang. Semua baik-baik saja. Rodha dan dua putranya itu lalu kembali ke kamar. Belum lagi memejamkan mata, riuh suara di luar. Pintu digedor keras. “Semua penumpang naik ke dek, pakai jaket pelampung!” perintah para kelasi kapal dengan suara keras. Kisah mengerikan itu dituturkan dengan dramatis dalam Encyclopedia-titanica.org.

Dirubung ketakutan, Rodha, Edward dan Joseph bergegas keluar. Bergabung dengan orang-orang yang berduyun panik di labirin bawah. Lalu berebutan melewati gerbang yang setengah tertutup. Suasana mencekam.

Menuju dek mestinya cuma sebentar, tapi lantaran orang berjejal dan berebutan pula, mereka tersumbat. Tiba di dek kapal, ketika dua sekoci penyelamat terakhir siap bergegas. Salah satunya bernama Collapsible C. Suasana di dek itu jauh lebih mencekam. Panik bercampur riuh perintah para perwira kapal.

“Hanya perempuan dan anak-anak yang boleh naik!” begitu instruksi yang dipekik berkali-kali para perwira kapal. Pekikan itu mengharubiru di tengah alunan musik band pemberi semangat. Anggota band itu delapan orang. Dipimpin Wallace Henry Hartley, mereka terus memetik nada di tengah kegentingan itu.

Rhoda termangu. Dirundung cemas, juga juga dilema hingga titik nadir. Jika masuk dalam secoki, itu artinya ia meninggalkan dua putra yang amat dicintainya itu. Dua buah hatinya itu memang berusia tanggung. Belum bisa dibilang dewasa. Tapi sudah melewati usia belia. Dan ibu mana yang rela meninggalkan anak-anaknya dalam “neraka” seperti itu.

Para wanita lalu bersiap masuk sekoci. Para perwira memaksa Rodha masuk barisan. Ia lalu berdiri. Emily, Frankie Goldsmith, May Howard, Sarah Roth, Emily Badman, Amy Stanley sudah berpindah. Ketika tiba gilirannya, Rodha mendadak balik badan.

Menatap sejenak kepada anak-anaknya, lalu berlari memeluk mereka. Tubuhnya membelakangi tatapan nanar para wanita yang sudah bersiap di sekoci. Tapi waktu, juga kengerian itu tak bisa menunggu. Sekoci itu perlahan diturunkan. Meninggalkan Rodha yang memeluk anak-anaknya, serta ratusan orang yang tersisa. Waktu sudah bergerak ke sekitar pukul 2 pagi.

Situasi kian mengerikan. Direndam banyak air, Titanic mulai miring. Para wanita dan anak-anak berebutan masuk sekoci terakhir yang bernama Collapsible A. Rodha tetap tak beranjak. Memeluk erat dua putranya.

Tiba-tiba buritan naik. Kapal itu nyaris tegak lurus. Lalu, sebuah gelombang besar menyapu dek. Rodha hanya punya kesempatan menggenggam tangan kedua putranya, sebelum ketiganya sama-sama menghujam laut. Beberapa saat setelah terbenam, ia terseret pusaran air yang timbul saat Titanic tenggelam.

Saat muncul ke permukaan, Rodha tersedak air yang masuk ke tenggorokan. Sesaat ia bisa mengatasi diri. Lalu panik mencari dua putranya di tengah orang-orang dengan napas satu dua, yang berjuang antara hidup dan mati. Badan terasa kaku. Sebab laut itu nyaris sedingin es. Minus 2 derajat Celsius.

Mencari ke sana-ke mari di tengah kegigigilan, dua putranya tak ditemukan. Tubuhnya mulai lelah. Ia menyerah melayani ajal. Tiba-tiba sepasang tangan kuat menarik lengan. Ia diangkat ke atas sekoci Collapsible A. Sekoci itu sudah penuh manusia.

Baru saja menghela nafas, sapuan ombak besar menggulung sekoci. “Miring ke kiri semua tergelincir dan jatuh ke dalam air. Kami berusaha naik, ada yang berhasil, sebagian gagal. Entah bagaimana caranya, saya bisa naik ke atas,” kata Rhoda dalam sebuah wawancara dengan Providence Daily Journal, seperti dimuat situs Titanic-Titanic.com.

Dua puluh orang mengantung hidup pada kapal itu. Ada yang duduk di atas, banyak pula yang berpegangan di sisinya. “Kami dipaksa untuk berdiri di perahu, berbaris untuk menjaga keseimbangan selama lebih dari enam jam,” kisah Rodhe. Teriakan, tangisan dan rintihan riuh terdengar, juga perih.

Lalu satu persatu suara-suara itu hilang. Bukan karena mereka diselamatkan, tapi lantaran kehilangan kesadaran akibat hipotermia. Dalam kegelapan terendam air es, tubuh membeku. Ada yang bertahan. Banyak yang sudah. Selama berjam-jam, Rodhe dan sejumlah penumpang berdiri tegak di atas sekoci itu, dan berharap bantuan datang.

Tapi dari 18 sekoci Titanic yang mengantar penumpang, cuma dua yang balik. Menyusuri kawasan penuh manusia beku itu, mereka menghampiri setiap suara. Satu dari dua sekoci itu dikemudi perwira Harold Lowe, yang memimpin pencarian.

Setelah mencari ke sana ke mari – dari sekian banyak orang yang jatuh ke air --hanya 13 orang yang berhasil diselamatkan. Mereka ditemukan di antara mayat-mayat yang mengambang pucat dan beku di antara puing-puing.

Dari 13 orang yang selamat itu, Rhoda satu-satunya perempuan. “Seandainya bukan karena Petugas Lowe, saya akan tenggelam. Saya sudah sangat kelelahan ketika ia mengangkat saya ke dalam sekoci itu,” kenang Rodhe.

Mereka yang selamat itu diantar ke kapal Carpathia yang terlambat datang. Kapal itu cepat memutar haluan demi memberikan pertolongan. Di laut lepas Carpathia satu-satunya kapal yang menerima sinyal “CQD”, isyarat minta tolong dari Titanic. CQD adalah kode yang lebih tua dari SOS.

Tapi kapal itu melaju di kejauhan sekitar 93 kilometer. Jika cepat bergegas jarak tempuh ke Titanic sekitar 4 jam. Sesungguhnya ada kapal yang lebih dekat yakni Californian. Cuma sekitar 31 kilometer. Tapi para kelasi di kapal itu tidak menyadari bahwa roket yang ditembakkan Titanic adalah pertanda darurat.

Selama pelayaran Carpathia menuju daratan, Rhoda dalam kondisi kepayahan. Ia terus berbaring lantaran cedera berat di kakinya yang sempat membeku. Tiba di New York, Amerika, ia harus menjalani perawatan lebih lama dari yang lain. Pada 5 Mei 1912, ia yang digambarkan kritis karena syok dan demam. Beruntung ia bisa melampui masa kritis itu. Lalu lambat laun memulih.

Hingga tutup usia pada 18 Februari 1946, Rhoda terus dirundung duka lantaran kehilangan dua putranya. Selamat dari kengerian itu, ia kemudian dijuluki “Lady of Sorrows Titanic.”

Kengerian yang dituturkan Rodhe dikenang dalam rupa-rupa bentuk. Dari pameran foto hingga mengangkat kisah itu ke layar lebar. Dalam sebuah acara lelang tahun 2010 lalu, selembar potret Rodha laku dengan harga Rp 35 ribu poundsterling atau sekitar Rp485 juta.

Kisah dramatis yang mengerikan itu, yang dikisahkannya kepada sejumlah media, mengilhami adegan penyelamatan Rose Dewitt Bukater dalam Film “Titanic’. Yang membedakannya adalah jika sosok yang dimainkan artis, Kate Winslet adalah seorang lady di kelas utama, Rhoda adalah penumpang kelas geladak. Kelas tiga.

www.bilikgratis.blogspot.com

Titanic tinggal kenangan. Dari 2.223 penumpang dan awak kapal, yang selamat cuma 706 orang. Dua pertiganya, 1.517 orang tamat di laut. Tenggelam atau membeku karena hiportenia. Mereka mati justru ketika melaut bersama sebuah kapal super mewah, dengan tingkat keamanan super maksimum pula.

Sebagaimana kengerian itu, dalam perkara kemewahan dan kecanggihan, pada jamannya Titanic memang tidak tertandingi. Ia adalah kapal uap terbesar. Teknologi tercanggih. Menawarkan begitu banyak kemewahan. Kolam renang mewah, ruang olahraga, pemandian ala Turki, perpustakaan, dan gelanggang squash.

Dinding kapal juga kokoh. Panel kayu melapisi ruang utama. Tiga lift disediakan untuk penumpang kelas utama. Satu lainnya untuk penumpang kelas dua.

Majalah Ship Builders menobatkan Titanic sebagai kapal yang "tidak mungkin tenggelam." Hanya dengan menekan satu tombol, pintu elektrik akan menutup, mengisolasi 16 ruangan kedap air. Ia mampu terus terapung meski empat ruangan di antaranya terendam air.

Segala kecanggihan itulah yang menyebab para penumpang tidak yakin saat diberitahukan bahwa kapal bakal tenggelam. Saat para perwira berpekik evakuasi, orang-orang tak menanggapinya serius. Dari segala sisi, Titanic terlalu tangguh untuk tenggelam begitu saja.

Lalu mengapa si raksasa ini terlihat begitu gampang karam ke dasar Atlantik? Banyak jawaban yang kemudian tersedia. Dari human eror hingga soal mistis.

Situs United States Senate, menulis bahwa sesudah tragedi itu, setidaknya 82 saksi yang dimintai keterangan dalam sidang yang digelar mulai 19 April 1912. Sidang itu dipimpin oleh Senator William Alden Smith.

Secara umum mereka berkisah tentang soal yang sama. Bahwa peringatan adanya bongkah es memang diabaikan. Jumlah sekoci tak cukup. Kapal terlalu cepat melaju. Kegagalan kapal lain merespon sinyal. Dan diskriminasi kelas saat evakuasi berlangsung. Transkrip sidang itu dipublikasikan pada 1912.

Dua negara, Amerika dan Inggris kemudian melakukan penyelidikan atas tragedi ini. Seperti dimuat situs USNews, para penyelidik itu menyimpulkan bahwa pemicu utama musibah adalah gunung es. Bukan karena Titanic lemah. Kapal raksasa itu, kata para penyelidik, karam dalam kondisi utuh.

Kapten kapal, Edward J. Smith dipersalahkan karena memacu kapal pada kecepatan 22 knot. Padahal itu perairan gelap yang dipenuhi es di lepas pantai Newfoundland. Kasus ini kemudian ditutup.

Namun fakta baru terkuak 1985. Saat itu ahli kelautan, Robert Ballard, akhirnya menemukan bangkai Titanic di kedalaman 2,5 mil di bawah laut. Kapal raksasa itu terbelah dua sebelum tenggelam. Dunia lalu gempar. Banyak yang mempertanyakan hasil sidang senat dan penyelidikan ahli Inggris dan Amerika.

Beberapa tahun setelah Ballard menemukan bangkai kapal, potongan pertama dari kapal dibawa ke permukaan. Potongan itu menguatkan dugaan rendahnya kualitas baja yang mungkin menjadi penyebab bencana.

Namun, hipotesis itu dibantah Jennifer Hooper McCarty, ilmuwan dari Oregon Health and Science University, serta Tim Foecke, ahli dari National Institute of Standards and Technology. Mereka menduga, bukan baja kapal yang bermasalah, tapi paku keling yang menyatukan pelat baja. Di sekujur tubuh kapal raksasa itu, sekitar 3 juta paku keling menancap.

Dalam pemeriksaan terhadap 48 paku keling yang dibawa dari bangkai kapal, ditemukan konsentrasi tinggi "terak (slag)," residu peleburan yang bisa membuat logam rawan patah. Dari arsip Harland & Wolff, mereka menemukan, rencana ambisius untuk membangun tiga kapal yang besar pada saat yang sama membuat galangan menanggung beban besar. "Bukan karena biaya, tetapi karena tekanan waktu, mereka mulai menggunakan bahan berkualitas rendah untuk mengisi kekurangan," kata Foecke.

Ketika Titanic menabrak gunung es, McCarty dan Foecke mengatakan, paku keling yang lemah copot, membuat robek di bagian lambung makin parah. Bukan kebetulan, lanjut Foecke, bahwa air yang masuk ke dalam kapal berhenti pada titik di mana paku baja yang lebih kuat digunakan.

Namun, pihak Harland & Wolff, yang dulu membangun Titanic, membantah spekulasi itu. Mereka membandingkannya dengan Kapal Olympic, saudara kembar Titanic. Meski paku yang digunakan sama, kapal itu mampu berlayar selama 25 tahun tanpa insiden, bahkan selamat dari tabrakan dengan kapal Inggris, juga kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II.

Paku yang kuat, kata mereka, mungkin bisa memberlambat tenggelamnya kapal. Namun saat air membanjiri enam tingkat Titanic, cuma tinggal waktu saja untuk menenggelamkan seluruhnya.

Si Gombal Francesco

Tragedi Titanic itu dikenang banyak orang, terutama para nahkoda kapal pesiar raksasa. Francesco Schettino, seorang nahkoda kapal raksasa, dalam sebuah wawancara dengan harian Ceko, Dnes pada Desember 2010, menyebut tragedi itu sebagai neraka. “Saya tidak mau berada dalam posisi kapten kapal Titanic, harus berlayar di lautan yang dipenuhi gunung es,” kata dia seperti dimuat New Kerala. “Tapi saya pikir, dengan persiapan matang, kami bisa menangani segala situasi dan siap menghadapi masalah.” Kepada wartawan yang ikut dalam pelayaran bersama kapal pesiar itu, Schettino mengumbar, “Keamanan penumpang adalah yang utama.” Kini kata-kata Schettino dianggap cuma sesumbar. Pada Jumat 13 Januari 2012, tiga bulan sebelum peringatan 100 tahun tenggelamnya Titanic, kapal mewah, Costa Concordia yang dinahkodainya kandas dan rubuh di perairan Italia. Setidaknya 11 penumpang tewas. 28 hilang. Alih-alih meneladani sikap Kapten Kapal Titanic, Edward John Smith, yang memilih tenggelam bersama kapalnya, sebagai bentuk pertanggungjawaban, Schettino justru ngacir duluan meninggalkan para penumpang yang panik dan anak buahnya yang kelimpungan tanpa komando. Penumpang memergoki kapten kapal berada di sekoci, menutupi tubuh dan wajahnya dengan selimut, sebelum semua penumpang dievakuasi. Namun, Schettino membantah keras. Ia ngotot mengatakan bahwa ikut membantu memindahkan penumpang ke sekoci. Tapi, karena kapal miring, ia ikut terjatuh ke kapal penyelamat. “Karena kapal miring pada sudut 60-70 derajat, saya tersandung dan ikut jatuh ke dalam sekoci penyelamat,” kata Schettino seperti dilansir CBS News mengutip dari La Republica, 18 Januari 2012. Apa yang dilakukan Schettino membuka ingatan lama tentang tokoh antagonis dalam tragedi Titanic, J Bruce Ismay, direktur White Star Line, yang mengoperasikan bahtera itu. Di tengah kepanikan, alih-alih membantu mengontrol kapal, Ismay meloncat ke dalam sekoci yang saat itu dikhususkan untuk wanita dan anak-anak. Ia meringkuk di tengah kapal penyelamat, dengan muka tertunduk menatap lantai, mengabaikan jeritan dan erangan sekarat. Ismay bahkan tak membalikkan badan, untuk sekedar melihat Titanic untuk terakhir kalinya. Padahal, seperti dimuat Guardian, Ismay diduga bertanggungjawab atas kurangnya jumlah sekoci yang dibawa Titanic. Idealnya ada 48 buah, yang ada hanya 20. Kata Ismay jauh sebelum musibah terjadi, tak perlu memenuhi dek dengan “sampah” itu. Sebab, Titanic sendiri adalah sekoci. Ketika bersaksi saat sidang, Ismay membantah kabur. Ia bersikukuh membantu evakuasi penumpang. Saat tak ada lagi yang bisa diselamatkan, barulah ia melompat ke sekoci. Meski menjadi satu dari 706 orang yang selamat dari kengerian itu, ia menanggung beban rasa bersalah selama hidupnya yang panjang dan kesepian. Ia meninggal dunia pada 17 Oktober 1937, dalam usia 74 tahun.

Tidak ada komentar: